Republika /da'an yahya

Keberlanjutan Pembangunan dengan Semangat Estafet

Oleh: NUR HASAN MURTIAJI

Begitu pentingnya titik, tidak akan terbentuk sebuah garis jika tak ada sebuah titik di dalamnya. Titik menjadi awal dari wujud suatu hasil karya. Dan garis menjadi

titik-titik penghubung agar sebuah objek

terbentuk sempurna.

 

Titik dan garis di sini bermakna pentingnya keterhubungan agar suatu objek mewujud. Kita masing-masing merupakan sebuah titik dari garis panjang kehidupan. Bagaimana kita berperan, apa yang kita perankan, seberapa besar maslahat peran kita bagi sesama menunjukkan kontribusi kita pada pembangunan peradaban.

 

Mengambil analogi dari titik dan garis ini, James Clear dalam bukunya, Atomic Habits, mengupas betapa pentingnya kebiasaan-kebiasaan kecil dalam menciptakan perbaikan yang berkelanjutan. Bahwa sejatinya, karakter manusia adalah kumpulan dari kebiasaan-kebiasaan kecil yang dilaksanakan secara rutin dan konsisten sehingga membentuk diri.

 

Sebagaimana membentuk jati diri untuk menjadi pribadi yang paripurna, demikian juga dengan pembangunan. Pembangunan yang berkelanjutan akan memenuhi kebutuhan atau hajat hidup saat ini dan masa depan. Prinsip penting dari pembangunan berkelanjutan adalah kualitas kehidupan yang terjamin hingga generasi mendatang.

 

Pembangunan yang berkelanjutan tidak berhenti ketika manusia pelaksananya berganti. Estafet pembangunan tetap berlanjut siapa pun eksekutornya. Di sinilah pentingnya peran kesamaan mindset atau cara pandang atas program pembangunan yang sedang berjalan. Proyek infrastruktur dengan segala pro dan kontranya mesti terus berlanjut.

 

Hal ini mengingat peran penting infrastruktur dalam menyambungkan antarwilayah, memangkas mata rantai produksi, mempermudah jalur distribusi barang dan manusia.

 

Program digitalisasi produk dan jasa di beragam sektor perekonomian bisa menjadi solusi untuk memudahkan distribusi, akses, dan keterjangkauan.

 

Produk boleh dihasilkan dari daerah, tetapi dipasarkan secara global karena sudah terkoneksi secara digital. Oleh karena itu, konektivitas sektor perekonomian dan keuangan berkontribusi signifikan dalam mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.

 

Salah satu lokomotif penggerak perekonomian nasional adalah perusahaan-perusahaan negara. Tidak ada alasan untuk tak melanjutkan proses transformasi BUMN yang kini berjalan.

 

Pembentukan klasterisasi dan restrukturisasi BUMN dilakukan dalam kerangka mengefisiensikan kinerja perusahaan untuk menjalankan program program pemerintah. Uang negara terselamatkan, perusahaan sehat, kesejahteraan rakyat terangkat. Industri halal dan perekonomian berbasis prinsip syariah pun kini menjamur. Perlu diteruskan guna menjadikan

 

Indonesia sebagai pusat perekonomian dan keuangan syariah global. Program peningkatan inklusi ekonomi dan keuangan syariah yang saat ini sedang berjalan mesti diorkestrasi dengan baik ke depannya.

 

Beragam pembangunan fisik yang terus berjalan itu mesti diiringi dengan membangun manusianya. Sektor kesehatan dan pendidikan berperan penting dalam menyiapkan generasi emas menyongsong bonus demografi. Manusia yang sehat lahir batin akan membentuk generasi mendatang yang tangguh fisik dan mentalnya.

 

Pun dengan program pendidikan. Fokus pada peningkatan kapasitas pendidikan manusia Indonesia seutuhnya menjadi agenda yang tiada henti. Pendidikan warga yang terjamin menciptakan bangsa yang unggul.

 

Menarik disimak hadis berikut, "Amalan yang dicintai Allah Ta'ala adalah amalan yang berkesinambungan walaupun itu sedikit," (HR Muslim). Pesan pentingnya, kontinuitas kerja harus dilakukan tanpa melihat besarannya. Terus melaju untuk Indonesia maju. Teruskan estafet pembangunan!

top